Lebong Garbetanews.com -Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Lebong awal tahun 2026.meninggalkan jejak kehancuran dan kesedihan luar biasa. Hujan deras yang turun terus-menerus selama beberapa hari menyebabkan sungai-sungai meluap dan lereng perbukitan runtuh.puluhan Desa terendam banjir dan infrastruktur vital terputus, dan banjir bandang inipun menelan korban materil yg cukup seknifikan.
Belum lagi berbicara Tentang Infrastruktur yang sangat menghawatirkan di Lebong. Sepanjang puluhan kilometer mulai dari Air dingin hingga Ujung tanjung ratusan titik yg rusak parah.
Namun hal tersebut pemerintah Provinsi di nilai sangat lamban dalam menangani permasalahan tersebut. Hinga di biarkan rusak parah bertahun-tahun. Lalu kemana pembiayaan, perawatan, dalam lima tahun terakhir.
Yang jelas saya berpendapat bahwa Kabupaten Lebong tidak di prioritas kan oleh pemerintah provinsi dalam 10 tahun terakhir ini.
Maka apa yang harus di pahami masyarakat adalah tentang pemimpin yg benar-benar mimikirkan KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH Kabupaten di provinsi Bengkulu ini. Pembangunan yang merata di seluruh Kabupaten di provinsi bengkulu ini.
Kemudian banjir bandang dalam tiga tahun terakhir ini sejatinya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Bahkan para ahli menilai fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang kian meningkat dalam dua dekade terakhir. Kombinasi faktor alam dan ulah manusia berperan di baliknya. Curah hujan ekstrem ini dipicu oleh dinamika atmosfer luar biasa.
Namun Irawan Putra, S.E berpendapat bahwa cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal. Dampak merusak banjir bandang tersebut sesungguhnya diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu,
Kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai Ketahun dalam pandangan saya telah menghilangkan daya dukung dan daya tampung ekosistem hulu untuk meredam curah hujan tinggi. Hilangnya tutupan hutan berarti hilang pula fungsi hutan sebagai pengendali daur air kawasan melalui proses hidrologis intersepsi, infiltrasi, evapotranspirasi, hingga mengendalikan erosi dan limpasan permukaan yang akhirnya memicu erosi masif dan longsor yang menjadi cikal bakal munculnya banjir bandang. Padahal, menurutnya, hutan di wilayah hulu Ketahuan berperan vital sebagai penyangga hidrologis. Vegetasi hutan yang rimbun ibarat spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah dan menahannya agar tidak langsung terbuang ke sungai. Sementara itu dengan permukaan tanah yang tidak terganggu, mampu memasukkan air ke dalam tanah (infiltrasi) hingga 55 persen dari hujan, sehingga limpasan permukaan (surface runoff) yang mengalir ke badan sungai hanya tersisa 10-20 persen saja. Belum lagi kemampuan hutan untuk mengembalikan air ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi yang bisa mencapai 25-40 persen dari total hujan. “Dengan demikian, hutan menjaga keseimbangan siklus air, mencegah banjir di musim hujan sekaligus menyediakan aliran dasar saat musim kering. Sebaliknya, ketika hutan hulu rusak atau gundul, siklus hidrologi alami itu ikut terganggu dan semua fungsi hutan berpotensi hilang. Peran hutan untuk intersepsi, infiltrasi dan evapotranspirasi akan hilang. Air hujan yang deras tak lagi banyak terserap karena lapisan tanah kehilangan porositas akibat hilangnya jaringan akar. Akibatnya, mayoritasi hujan menjadi limpasan permukaan yang langsung mengalir deras ke hilir,” ucapnya.
Disisi lain, hutan yang masih utuh dinilai memiliki ambang batas kemampuan untuk menampung hujan yang jatuh. Pada kondisi hujan ekstrim, kemampuan itu terlalu banyak sehingga meningkatkan potensi kejadian longsor. Material longsor berupa tanah, batu dan batang pohon akan menimbun badan sungai dan menciptakan bendungan alami. Volume air yang besar dalam waktu singkat membuat sungai tak mampu menampung, dan bendungan alami ikut jebol, maka terjadilah banjir bandang. Tanah yang tidak lagi dipertahankan akar juga mudah tererosi, material lumpur dan pasir terbawa ke sungai, mengendap dan mendangkalkan alur sungai. “Pendangkalan dan penyempitan sungai akibat sedimen ini akhirnya memperbesar risiko luapan banjir. Dengan kata lain, hutan hulu yang hilang berarti hilangnya sabuk pengaman alami bagi kawasan di bawahnya,” ungkap Irawan putra.S.E
Kemudian dari pada itu pemerintah harus serius menangani hal ini kedepan, kalau tidak mau perkiraan 2055 Lebong akan terendam secara dramatis.
Maka penghijawan ulu sungai Ketahun harus segerah di laksana secara besar besaran. Termasuk anak sungai yg lain.
Kita mempunyai perusahaan-perusahaan listrik kabupaten Lebong yang sumber airnya dari sungai Ketahun, tapi sayang nya mereka tidak merawat hulu sungai dengan baik,
Tutup irawan putra.
Reporter : CND
Editor : Agus






